Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengenal Hikikomori, Bukan Hanya Sekedar Mengurung Diri di Kamar!

 

hikikomori

Ketika Mahkluk Sosial Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

Yo mina san!

Kalian pasti sudah sering mendengar tentang kata yang satu ini, Hikikomori. Ya kata tersebtu sering sekali muncul di serial anime yang kalian tonton.

Biasanya seorang karakter yang dilabeli dengan kata ini memiliki sifat yang tertutup dan selalu mengurung dirinya di suatu tempat.

Sebagai contoh saya akan mengambil Rudeus Greyrat dari Mushoku Tensei. Sebelum dirinya pindah ke isekai, Rudeus merupakan seorang Hikikomori.

Ia selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar dan tidak mau keluar. Hingga pada akhirnya dia diusir oleh keluarganya sendiri dan mati karena kecelakaan.

Hikikomori sendiri bukan sekedar mengurung diri di dalam kamar, namun lebih dari itu. Menurut Dr. Tamaki Saito (Psikolog asal Jepang) Hikikomori merupakan kondisi dimana seseorang mengasingkan diri dari kegiatan sosial selama kurang lebih 6 bulan.

Kegiatan sosial yang dimaksud disini adalah seperti bersekolah, bekerja, menjalin hubungan dengan orang terdekat seperti tetangga dsb.

Nah dari sini kalian pasti sudah mulai mengerti kalau Hikikomori tidak hanya sekedar mengurung diri di kamar, tapi lebih ke mengasingkan diri dan menghindari seluruh kegiatan sosial yang ada.

Hikikomori sendiri tidak muncul tanpa sebab, menurut penelitian yang dilakukan Mohammad Irvansyah, ada 4 faktor yang menyebabkan Hikikomori yakni:

1. Faktor Lingkungan Sekolah

Koe no Katachi

Ada banyak sekali hal yang bisa terjadi di lingkungan sekolah, di tempat ini kita bisa menemukan banyak sekali hal positif, namun juga ada hal negatif yang selalu menghantui dibelakangnya.

Salah satu hal negatif tersebut adalah bully, ya kasus bully sering kali terjadi di lingkungan sekolah. Seorang anak yang setiap hari menerima bully lama kelamaan pasti akan merasa jengah dan enggan untuk berangkat sekolah.

Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menarik diri dan menjadi hikikomori. Selain kasus bully, gagal dalam ujian karena tingginya tuntutan untuk sekolah di tempat ternama juga bisa membuat seseorang menjadi hikikomori.

2. Faktor Keluarga

Seringkali dalam sebuah keluarga, mereka akan menaruh harapan yang sangat besar pada anak tertua. Mereka berharap agar anak tersebut kelak menjadi orang yang hebat dan mampu melindungi adik-adiknya.

Adakalanya hal tersebut berujung ke pemaksaan yang menuntut seorang anak untuk bersekolah ke tempat yang tidak ia inginkan atau menekuni bidang yang tidak ia suka.

Karena pemaksaan tersebut, seringkali seorang anak akan menjadi hikikomori untuk mengatasi pemaksaan tersebut.

Selain pemaksaan, memanjakan seorang anak secara berlebihan juga bisa membuatnya menjadi seorang hikikomori.

Di Jepang sendiri ada suatu konsep yang disebut Amai, dimana para keluarga akan berusaha keras untuk memberikan fasilitas yang membuat anak-anak mereka betah dirumah.

Hal tersebut merupakan perwujudan kasih sayang mereka kepada anaknya, namun seringkali hal tersebut dilakukan secara berlebihan hingga membuat sang anak sangat betah di rumah dan tak mau melakukan kegiatan sosial apapun, pada akhirnya anak tersebut menjadi seorang hikikomori.

3. Faktor Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial dimana segala informasi bisa berjalan dengan cepat, di lingkungan ini juga kita bisa menjadi sangat depresi.

Seringkali faktor ini memperparah faktor-faktor sebelumnya, contoh ketika ada seseorang yang gagal dalam ujian, tiba-tiba kabar tersebut menyebar di lingkungan sekitarnya dan menjadi bahasan semua orang.

Tekanan yang didapat dari kegagalan dalam ujian diperparah dengan bahasan para tetangga tersebut, tentunya beban yang harus di tanggung juga semakin besar.

Hal tersebut bisa membuat seseorang semakin menarik dirinya dan pada akhirnya menjadi hikikomori.

4. Faktor Individu

Akane

Faktor ini merupakan faktor penentu seseorang akan menjadi hikikomori atau tidak. Semua faktor sebelumnya tidak akan berefek jika faktor ini berhasil dikalahkan.

Dari faktor-faktor sebelumnya, semua pasti kembali kepada individu masing-masing, bagaimana ia menyikapi kegagalannya ketika ujian, bagaimana ia menyikapi tekanan dari keluarganya, bagaimana ia menyikapi nyinyiran dari para tetangga.

Jika individu tersebut berhasil mengatasinya, maka ia tidak akan menjadi hikikomori begitu pula sebaliknya.

Jika individu tersebut merasa kalau ia sudah tidak kuat menahan semua rasa depresi dan tekanan tersebut, maka ia akan menarik dirinya dan menjadi hikikomori.

Overall semuanya akan kembali pada diri kita masing-masing, bagaimana cara kita menyikapi suatu permasalahan tersebut, apakah kita akan berusaha mengatasinya, atau menarik diri dan menghindarinya? semua kembali pada diri kita masing-masing.

Memang tak ada salahnya untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk lingkungan sosial, namun kalian harus ingat, hidup terus berjalan, kalian harus keluar dan terus melangkah kedepan.

Paman Radon
Paman Radon Senyumin aja

Post a Comment for "Mengenal Hikikomori, Bukan Hanya Sekedar Mengurung Diri di Kamar!"