Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Review Josee, The Tiger, and The Fish, Cinta Itu Tak Memandang Fisik

 

Josee, The Tiger, and The Fish

Penuh Akan Makna Mendalam Yang Bisa Menjadi Tamparan Banyak Orang

Yo mina san!

Ok hari ini saya mau bahas soal anime movie yang baru-baru ini tayang di bioskop tanah air, memang terkesan sederhana kalau dilihat sekilas, namun sebenarnya banyak makna mendalam di dalam film ini.

Josee, The Tiger, and The Fish atau dalam versi Jepangnya Josee, To Tora, To Sakana-Tachi merupakan anime movie romance yang menyentuh dan tentunya kombinasi komedi yang diberikan sangat pas.

Selain kisah yang menyentuh, anime movie ini bisa juga menjadi tamparan keras untuk banyak orang, penasaran kenapa bisa sampai begitu? Ok mari kita bahas satu persatu!

Seputar Josee, The Tiger, and The Fish

Josee, The Tiger, and The Fish pertama kali dipublikasikan pada tahun 1984 di Monthly Kadokawa dalam bentuk cerita pendek karangan Seiko Tanabe.

Sebelum diadaptasi menjadi anime, karya Seiko Tanabe ini juga pernah diadaptasi menjadi dua live action.

Pada tahun 2003 diadaptasi menjadi live action di Jepang dengan judul yang sama dan pada tahun 2020 diadaptasi menjadi live action di Korea Selatan dengan judul Josee.

Untuk adaptasi animenya sendiri dikerjakan oleh studio Bones dan tayang pertama kali pada tanggal 25 Desember 2020 dan baru bisa tayang di Indonesia mulai tanggal 19 Mei 2021.

Dengan durasi 1 jam 38 menit anime ini mampu meraih rating 8,28 di myanimelist, rating yang tinggi memang padahal masih belum lama tayangnya.

Sinopsis Josee, The Tiger, and The Fish

Yamamura Kumiko (Josee)

Suzukawa Tsuneo, seorang mahasiswa yang sangat mencintai yang namanya ikan, ia juga memiliki impian untuk bersekolah di Meksiko agar bisa melihat kembali ikan langka yang pernah ia lihat sewaktu kecil.

Sewaktu perjalan pulang ke kosan, ia menyelamatkan seorang perempuan yang terjatuh dari kursi rodanya, jatuhnya ekstrim juga sih langsung meluncur bebas di jalanan curam.

Perempuan tersebut bisa terjatuh karena didorong seseorang, neneknya yang sudah tua tak bisa menolongnya karena usianya tersebut.

Melihat sifat dari Tsuneo akhirnya sang nenek menawarkan sebuah pekerjaan untuknya yaitu untuk merawat dan menemani cucunya yang bernama Yamamura Kumiko.

Kumiko sendiri tidak mau dipanggil dengan namanya tersebut, ia ingin dipanggil dengan nama Josee oleh Tsuneo, Josee sendiri merupakan nama dari pemeran utama di buku favorit Kumiko.

Dari situ Tsuneo mulai menyadari bakat Josee dalam melukis dan betapa tersiksanya ia karena tak pernah bisa melihat dunia luar dengan bebas.

Neneknya begitu protektif karena ia takut cucunya akan disakiti orang-orang jahat di luar sana, namun pemikiran Tsuneo berkata lain, ia akhirnya mau menemani Josee pergi ke banyak tempat dan melindunginya.

Mulai dari situ mereka semakin dekat dan perasaan mereka mulai berubah yang awalnya hanya sekedar seorang pelayan dan majikan hingga menjadi sepasang kekasih.

Review Josee, The Tiger, and The Fish

Seperti yang sudah saya bilang di awal, anime ini memberikan tamparan keras kepada kita, ya tamparan itu sangatlah keras.

Dalam anime ini kita diperlihatkan sebuah sudut pandang yang mungkin sebagian besar dari kita belum pernah merasakannya.

Ya sudut pandang itu merupakan sudut pandang dari Josee yang notabene merupakan seorang difabel, dalam cerita ia ingin bisa bebas melihat dunia luar tetapi ia tak bisa melakukan hal tersebut.

Tora (Harimau) begitulah Josee dan neneknya menyebut orang-orang jahat yang ada di luar sana, orang-orang yang tak bisa menghormati satu sama lain.

Di awal film kita sudah diperlihatkan kelakukan dari Tora tersebut yaitu mendorong Josee dan kursi rodanya di jalanan curam.

Karena banyaknya orang-orang yang seperti itu maka nenek dari Josee melarangnya untuk pergi keluar rumah, apalagi sendirian.

Namun hal tersebut berubah semenjak kehadiran Tsuneo dikehidupan Josee, bersama dengan Tsuneo ia akhirnya bisa pergi melihat berbagai macam hal di dunia luar sana.

Tsuneo mengajaknya ke berbagai tempat seperti laut, perpustakaan, aquarium dan banyak hal.

Dalam berbagai perjalanan Josee tersebut kita kembali lagi diperlihatkan sikap orang-orang terhadap Josee, berulang kali kursi roda Josee ditabrak dan bukannya berkata maaf mereka malah memaki dan bersikap sinis pada Josee.

Dari sini kita mendapat pesan yang sangat menampar tentunya, mereka itu sama, tidak ada bedanya dengan kita, mereka juga manusia maka apa salahnya kalau saling menghormati kepada sesama?

Semua diberi kelebihan dan kekurangan masing-masing, tak ada yang lebih baik dari siapapun dan tak ada pula yang lebih buruk dari siapapun, semuanya sama.

Tentunya Josee tidak hanya bertemu dengan orang-orang jahat, kini ia juga menemukan banyak teman ketika bepergian bersama Tsuneo, salah satunya adalah pustakawati yang kebetulan mengidolakan penulis yang sama dengan Josee.

Dari sini cerita mulai ditarik ke arah romansa dengan selingan komedi di dalamnya, yup tepat sekali hubungan Josee dan Tsuneo kini semakin dekat.

Meskipun pada awalnya Tsuneo selalu mengeluh karena kelakuan Josee dan sifat tsunderenya yang menyebalkan, tetapi pada akhirnya ia luluh dan perasaannya perlahan berubah.

Suzukawa Tsuneo

Dipertengahan cerita konflik mulai memanas, berbagai permasalahan seakan muncul secara bersamaan dan ya yang paling saya suka dari konflik ini adalah keberadaannya yang secara alami muncul dalam cerita.

Berkat penokohan dan alur yang solid di awal, kita jadi bisa menerima konflik yang ada, tentunya hal tersebut membuat cerita semakin menarik dan membuat penasaran para penontonnya.

Kalau kalian mengira hubungan romansa mereka akan mulus-mulus saja kalian salah, hubungan mereka tak bisa berjalan dengan mulus semudah itu.

Persaingan antara Josee dan Mai Ninomiya (sahabat Tsuneo) semakin memanas, dengan prinsip mereka masing-masing kini mereka bersaing untuk mendapatkan hati Tsuneo.

Untuk jalan ceritanya sendiri saya pribadi memberikan nilai 9/10 saya juga tak ragu menyatakan kalau jalan cerita dari anime ini mampu menyaingi Kimi no Na Wa.

Beralih ke musik, alunan musik dari Eve Call terasa sangat pas dengan jalannya cerita, untuk lagu temanya sendiri dibawakan oleh Eve, tentunya kalian tahu bukan siapakah dia?

Yup Eve pernah membawakan lagu opening pada anime populer akhir-akhir ini yaitu Jujutsu Kaisen, dengan lagunya yang berjudul Ao no Waltz kita seakan dibawa masuk kedalam anime dengan alunan musik slownya.

Untuk grafisnya sendiri saya cukup tercengang, entah apa yang direncanakan studio Bones tetapi yang jelas rencana mereka tersebut berhasil memukai saya.

Tidak seperti kebanyakan anime movie yang akhir-akhri ini tayang dimana mereka berlomba-lomba untuk membuat grafis mereka sangat bagus dan realistis.

Namun di anime ini lain lagi, mereka lebih menonjolkan kualitas anime dua dimensinya, ya unsur tersebut sangatlah kental.

Yang paling saya suka adalah penggambaran latar belakang yang dibuat seperti menggunakan cat air.

Grafis Josee, The Tiger, and The Fish

Overall saya memberikan rating 8,5/10 untuk anime movie ini, jadi kesimpulannya anime ini sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Untuk kalian penggemar romance, rasanya wajib sih untuk nonton dan buat kalian yang bingung mau nonton apa sama doi, mending ajak si doi nonton anime ini dah.

Dan buat kalian yang jomblo sama seperti saya jangan khawatir, nonton aja sama temen-temen kalian atau nonton sendirian seperti saya juga gak apa-apa, kalian gak akan rugi karena banyak sekali pesan yang disampaikan dalam film ini.

So tunggu apa lagi? segera booking tiket nontonnya di bioskop kesayangan kalian, cukup sekian dan sampai jumpa di edisi review selanjutnya

Paman Radon
Paman Radon Senyumin aja

Post a Comment for "Review Josee, The Tiger, and The Fish, Cinta Itu Tak Memandang Fisik"