Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Budaya Tachiyomi Cerminan dari Minat Baca yang Tinggi di Jepang

Budaya Tachiyomi Cerminan dari Minat Baca yang Tinggi di Jepang

Yo mina san!

Membaca, menurut saya itu merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Tapi ya kalian tahu sendiri di negara ini seperti apa, masyarakat di sini kurang meminati hal tersebut.

Hal itu bisa dibuktikan dengan rendahnya minat baca di negara ini.

Namun lain halnya dengan di Jepang, minat baca disana sangatlah tinggi.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan, namun memang kenyataannya seperti itu.

Pertanyaannya sekarang bagaimana bisa minat membaca di Jepang sangat tinggi? Penyebabnya adalah pembiasaan membaca sedari kecil.

Kurikulum pendidikan di sana pun juga seakan mengarahkan para siswa yang ada untuk membaca, entah itu lewat penugasan seperti membuat karya sastra atau menceritakan pengalaman selama liburan musim panas.

Selain penugasan tersebut juga ada pembiasan seperti membaca 10 menit sebelum pembelajaran dimulai, dan hal itu sudah berlangsung selama 30 tahun.

Setelah semua hal tersebut dilakukan tentunya secara otomatis minat membaca akan naik.

Tingginya minat baca tersebut memicu kemunculan sebuah kebiasaan atau budaya baru bernama Tachiyomi.

Diambil dari kata Tachimasu yang artinya berdiri dan Yomimasu yang artinya membaca.

Jadi singkatnya itu merupakan kebiasaan membaca sambil berdiri.


Tachiyomi biasanya dilakukan untuk mengisi waktu luang, seperti ketika berada di kereta atau sedang menunggu di suatu tempat.

Dan karena budaya ini juga cafe, minimarket, dan toko buku menyediakan buku-buku bacaan untuk para tachiyomi tersebut.

Ok untuk cafe dan minimarket saya rasa tidak masalah untuk menyediakan buku bacaan, tapi untuk toko buku? Bukankah mereka akan rugi kalau semua orang yang datang hanya membaca secara gratis tanpa berniat untuk membelinya?

Tentu saja pola pikir tersebut hanyalah sebuah teori belaka, kenyataannya hal tersebut malah menumbuhkan sebuah simbiosis mutualisme antara para tachiyomi dan pemilik toko.

Perlu diingat, tak semua orang di Jepang mampu untuk membeli buku, lalu lewat mana mereka bisa membaca buku selain dari perpustakaan? Tentunya lewat toko-toko yang menyediakan buku untuk mereka baca secara cuma-cuma.

Lalu untuk para pemilik toko hal tersebut juga bisa sebagai promosi akan produknya dan jika suatu saat para tachiyomi sejati tersebut sudah mampu membeli buku pasti mereka tidak akan ragu untuk belanja di toko yang selalu menyediakan bacaan gratis untuk mereka dulunya.

Pada intinya tachiyomi ini bukan sekedar membaca sambil berdiri saja, namun menurut saya lebih ke membaca di mana saja dan kapan saja.

Budaya Tachiyomi Cerminan dari Minat Baca yang Tinggi di Jepang


Tentunya budaya tersebut sangatlah bagus untuk ditiru mengingat manfaat yang besar bisa didapat dari membaca.

Jadi apakah hal tersebut bisa diterapkan di negera kita ini?

Untuk di Indonesia sendiri fasilitas-fasilitas yang mendukung bisa dibilang sudah ada untuk menerapkan budaya tersebut, namun ada satu yang kurang, orang yang baca bukunya tidak ada.

Semisal ada yang berkelit mereka males membaca karena buku bacaan di Indonesia tidak menarik seperti light novel maupun manga di Jepang, cepat bawa sini orangnya biar saya tampar.

Novel dan komik lokal di Indonesia ini bagus-bagus, kalian aja yang gak mau baca.

Jadi untuk sekarang ayo cobalah untuk membaca sesekali.

Banyak kisah menarik yang dibawakan para penulis dan komikus dari negeri kita menunggu untuk kalian baca.
Paman Radon
Paman Radon Senyumin aja